Minggu, 27 November 2022
Follow Us ON :
 
 
 
| Diduga Asal Jadi, Pengerjaan Jalan di Desa Sari Mulya jadi Sorotan Publik | | APBD 2023 Disahkan, Balai Kayang Segera Dituntaskan, Dua Ranperda Dalam Pembahasan | | Bertabur Hadiah, Korwil Pendidikan Bukit Batu Gelar Jalan Sehat Bermasa | | Optimalkan Gerakan Wakaf Seribu Sehari, Wabup Husni Minta Maksimalkan Pengumpulan | | Sekda Arfan Usman Buka Kegiatan Tentang Manajemen dan Pengawasan Penyelengaraan Pemerintah Kampung | | Asisten Adum Jamal Penggunaan Bahasa di Ruang Publik dan Dokumen Lembaga Utamakan Bahasa Negara
 
Catatan H. Dheni Kurnia In Memoriam Margiono Wartawan Hebat!
Rabu, 02-02-2022 - 23:28:04 WIB

TERKAIT:
   
 

PEKANBARU, DELIK RIAU - Saya (H. Dheni Kurnia) dua priode menjadi ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Provinsi Riau (2007-2017). Saya dua kali juga dilantik oleh dua orang hebat yang saya sukai dan kagumi gayanya. 

Priode pertama, saya dilantik oleh Tarman Azam (Alm). Priode kedua, saya dilantik oleh Margiono, yang meninggal dunia 1 Februari 2022 lalu. Tapi saya tak lama merasakan kepemimpinan Tarman Azam. Hanya setahun. Karena 2008 Margiono menggantikan Tarman sebagian Ketua PWI Pusat. Margiono terpilih menjadi Ketua Umum PWI dua priode, 2008-2018.

Praktis, masa jabatan saya menjadi Ketua PWI Riau, banyak berurusan dengan Margiono. Karena jabatan kami hampir bersamaan. Selama dia menjabat,  Margiono sering ke Riau. Dalam catatan saya, Margiono enam kali berkunjung, saat saya undang pada Hari Pers Nasional (HPN) di daerah maupun pelantikan beberapa PWI di kabupaten/kota.

Saya merasakan, sangat enak menjadi ketua PWI di zaman Margiono. Karena saya gak perlu menyiapkan segala kebutuhan pejabat pusat PWI itu. Saya gak perlu menyiapkan tiket pesawat, hotel, maupun hal-hal kecil lainnya. Dia sering tak mau dibayarin tiket. Apalagi minta pesawat kelas satu atau hotel berbintang. Karena lebih suka  bayar sendiri, atau sudah ada yang mengurusnya. Maklum, dia juga "pejabat tinggi" di Jawa Pos Grup, media milik JPNN yang cukup menjamur di Riau. 

Terkadang malah saya gak tahu Margiono sudah sampai ke Riau. Karena tiba-tiba sudah menelepon; "Dheni, kamu dimana?". Saya bilang saya di kantor. "Kita ketemuan ya. Dimana makan yg enak," katanya. Dalam kekagetan saya, ternyata dia sudah sampai di Riau, sehari sebelum acara yang saya gelar dimulai. Mengenai makan, Margiono memang pemakan yang hebat. Dia bisa menghabiskan setengah kilo patin ikan pedas, sekali duduk. 

Terkadang pula, saya tidak tahu dia sudah pulang ke Jakarta, tanpa memberitahu saya. Beberapa kali, usai acara dia minta izin. Katanya mau ke rumah saudaranya. Margiono memang punya banyak saudara sekampungnya, Tulungagung Jatim, di Pekanbaru. Kemudian, ketika saya hubungi, teleponnya tak aktif. Malamnya dia kontak bahwa sudah sampai Jakarta. Dia pulang sendiri, tanpa kami urus. 

Jika dia ke Riau, beberapa kali pula, saya mendapat "hadiah tak terduga" dari beberapa bupati di Riau. Satu ketika, ada peringatan HPN Provinsi yang dipusatkan di Tembilahan Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Margiono ikut hadir. Usai acara, Bupati Inhil menitipkan oleh-oleh dan kertas tertutup ukuran besar buat Margiono. Tapi ketika saya beritahu padanya, dia bilang; "Simpan aja buat kamu."

Hal yang sama juga terjadi di Kabupaten Siak dan Kabupaten Rokan Hilir. Semua yang dititipkan pejabat daerah untuk Margiono, semuanya pula diserahkan kepada saya. Tapi sesampai di Pekanbaru dia mengatakan; "Lain kali kalau saya ke Riau, bilang sama bupati atau siapapun, jangan nitip-nitip buat saya." Hahaha. Terlambat mas, jawab saya. 

Sebenarnya, saya sudah lama mengenal Margiono. Tahun 1991 hingga 1993, saya bertugas di Harian Surya Surabaya, jaringan media milik Harian KOMPAS Grup di daerah. Ketika itu, Margiono sudah jadi wartawan hebat di Jawa Pos, Surabaya.

Saat itu, saya mengenalnya sebagai pribadi  yang hangat, bersahabat dan guyonan. Bicaranya serius, tapi sering membuat saya terpingkal. Beberapa kali juga, saya ditraktir makan olehnya. Selalu, jika bersama Margiono, saya gak pernah membayar. Saya selalu kalah dulu, jika soal bayar membayar dibanding Margiono. Padahal waktu itu, "persaingan" antara Jawa Pos dan Harian Surya, cenderung "berdarah-darah". Saya menyebut kata berdarah, karena ada yang tewas di jalanan saat mobil koran yang membawa Jawa Pos menyalip mobil Surya, sehingga terjadi insiden yang menewaskan beberapa orang. 

Tahun 1999, saya berhenti dari Persda (Pers Daerah) KOMPAS. Saya kemudian diterima bekerja di Harian Sumatera Ekspres, Palembang Sumsel, yang tergabung di JPNN (Jawa Poss News Network). Saya menelepon Margiono. Saya katakan, bahwa saya kini menjadi anak buahnya. Tapi dia menjawab; "Dari dulu kan saya sudah jadi bos kamu. Karena saya sering mbayarin kamu makan." Kemudian dia tertawa. Candanya kadang keterlaluan. Karena hanya membayari saya ngopi dan makan, dia dah mengaku sebagai atasan saya.

Beberapa tahun setelah itu (2005) saya pulang kampung ke Riau. Saya minta berhenti dari JPNN. Pada pemilihan ketua PWI Riau tahun 2007, saya maju dan saya menang. Saya dilantik oleh Tarman Azam, yang seluruh biaya perjalanannya mulai dari tiket, hotel sampai oleh-oleh ditanggung oleh PWI Riau. 

Ketika 2008, Margiono maju sebagai ketua PWI Pusat yang Kongresnya dilaksanakan di Banda Aceh. Sebagai Ketua PWI Riau, saya tentu memiliki suara untuk memilih. Margiono mendatangi saya ke kamar. Ketika itu, saya bersama Zufra Irwan (juga pengurus PWI Riau). Margiono kemudian duduk di lantai kamar hotel. Kami jadi sungkan. Tapi dia santai aja. Malah dengan gayanya, dia mengatakan, apakah saya masih mengenal bosnya? 

Margiono kemudian terpilih menjadi Ketua PWI Pusat lima tahun ke depan. Bahkan 2013 dia terpilih kembali menjadi Ketua PWI hingga 2018. Dan, selama itu pulalah saya merasa sangat lega menjadi Ketua PWI Riau. Dia menghapuskan iuran kartu anggota. Dia tidak menganjurkan melayani pengurus PWI Pusat yang berkunjung ke daerah. Dia menekan saya untuk membangun kantor PWI Riau yang representatif. Dia meminta saya jangan takut ditekan siapa saja sebagai Ketua PWI. "Kamu hanya boleh takut pada saya," katanya sambil tertawa lebar. 

Begitulah. Ketika jabatan saya berakhir sebagai Ketua PWI Riau, setahun setelah itu Margiono pun lengser. Dan saya tak pernah berjumpa lagi hingga akhirnya saya mendapat kabar dia meninggal dunia karena Covid 19.

Saya terhenyak, ketika membaca kabar duka itu. Lama saya termenung. Kenapa bisa covid mengalahkan Margiono yang hebat. Apakah tak ada penyakit lain yang lebih mulia, yang mengantarkannya ke liang lahat. Mungkin hanya Allah SAW yang tahu. Karena itu memang hak prerogatif Yang Maha Kuasa. Saya hanya sedih teringat kebaikan, profesionalitas dan gaya kepemimpinannya. Meski kelak saya dan teman-teman lainnya akan menyusul Margiono, tapi hari ini, kami benar-benar kehilangan. 

Karena Margiono, memanglah wartawan hebat. Tak kalah oleh waktu, pengetahuan, jabatan dan profesionalisme. Di mata saya, sejak mengenalnya 1991, dia seorang yang mampu menerobos dunia jurnalistik hingga puncaknya. Dia seorang wartawan yang gigih, tak pernah menyerah, santun, berkarakter, mengayomi, penghibur, mau berkorban, meski kadang kata-katanya agak nyeleneh. 

Sebagai wartawan gigih, tangguh dan tak pernah menyerah, saya tahu Margiono bersama teman-temannya ikut melebarkan sayap Jawa Pos di seluruh pelosok tanah air. Bahkan kemudian, ketika berdiri membangun Harian Rakyat Merdeka, tiang bendera yang dipancangkannya berkibar hingga kini. 

Sebagai pemimpin, dia terampil  dan tidak pernah menyalahkan siapapun. Dia memimpin organisasi wartawan terbesar dan tertua, nyaris tak ada gugatan. Dia salah satu tonggak dalam mengangkat harkat dan martabat organisasi serta wartawan. Pernah pula Margiono jadi Wakil Ketua Dewan Pers di masa Prof Bagir Manan. Di zamannya, tak pernah ada organisasi lain yang berani mengotak-atik dan mengecilkan  peran Dewan Pers. 

Memang dia pernah gagal. Tapi itu bukan bidangnya. Bukan profesinya sejak awal. Tahun 2018, dia pernah maju sebagai bupati di daerah kelahirannya. Namun dia dikalahkan oleh seorang yang diduga koruptor. Belakangan dia tersadar, dan balik ke pangkal jalan. 

Dan. Sebagai penghibur, saya sudah membuktikan, dia mampu membuat banyak orang tertawa, minimal tersenyum. Ini mungkin bakat alam atau karena dia penyuka grup lawak Srimulat di era muda. Atau pula karena dia seorang dalang yang memiliki selera humor tinggi. 

Bahkan, saat menjadi Ketua PWI Pusat, orang selalu menunggu-nunggu pidatonya setiap tahun di HPN. Pidato yang ringan, menyentil, kadang menusuk, tapi bisa membuat orang terbahak, termasuk Presiden RI. Guyonannya, menurut saya, adalah salah satu daya tarik HPN, untuk wartawan tetap hadir. 

Kini saya hanya bisa berdoa agar Almarhum husnul khotimah. Diampunkan Alllah dosa-dosanya, dan dibalas segala kebaikannya. Bertetes air mata kesedihan saya, mungkin bisa diteguknya di Surga Allah. 

Saya ingin menuliskan juga satu pantun yang disampaikan Margiono pada acara di rumah Gubernur Riau, Anas Makmun. Ketika itu dia mengucapkan terimakasih atas pembangunan  Kantor PWI Riau  oleh Pemerintah Provinsi Riau (2009-2012) dengan dana hampir 14 miliar rupiah. Kata Margiono; Ikan hiu terjerat ranjau/Thank you Pak Gubernur Riau. (**)

H. Dheni Kurnia, Ketua PWI Riau (2007-2017), Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI Riau 2017-2022, Ketua JMSI Riau 2020-2025.



 
Berita Lainnya :
  • Catatan H. Dheni Kurnia In Memoriam Margiono Wartawan Hebat!
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Diduga Asal Jadi, Pengerjaan Jalan di Desa Sari Mulya jadi Sorotan Publik
    02 Bertabur Hadiah, Korwil Pendidikan Bukit Batu Gelar Jalan Sehat Bermasa
    03 Ditresnarkoba Adakan Healing dan Konseling untuk Pasien Ketergantungan Obat
    04 Peringati Hari Guru Nasional, DPC PKS Lakukan Kunjungan ke Sekolah-sekolah di Pangkalan Kerinci
    05 APBD 2023 Disahkan, Balai Kayang Segera Dituntaskan, Dua Ranperda Dalam Pembahasan
    06 Berkah Dihari Guru, Kapolres Siak Wujudkan Mimpi Suryati Miliki Sepeda Motor Baru
    07 84 Perusahaan Tak Kantongi Izin HGU Akan Ditindak, Secepatnya Kejati Riau Bentuk Tim Terpadu
    08 Peringati Hari Guru,Dukung Proses Belajar Mengajar Polres Siak Polda Riau Beri Tablet Berisi Aplikasi E-Library Presisi Polda Riau
    09 Tukar Kado Warnai Perayaan Hari Guru ke-77 di SMAN 2 Dayun
    10 Polres Siak Lakukan Bakti Sosial, Personil Sat Intelkam Berikan Bantuan Paket Sembako ke Panti Asuhan Assidqiyah Kampung Dalam
    11 Ditresnarkoba Adakan Healing dan Konseling untuk Pasien Ketergantungan Obat
    12 Optimalkan Gerakan Wakaf Seribu Sehari, Wabup Husni Minta Maksimalkan Pengumpulan
    13 Bupati Alfedri Hadir Acara 3RD International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas 2022 Di Bali
    14 Pemkab Siak raih penghargaan pada Riau Investment Award 2022
    15 Arfan Usman: Koordinasi Peta Ketahan dan Kerentanan Pangan Kabupaten Siak Terus Diupdate
    16 Saat Menjalani Perawatan Medis, Tahanan Polda Lampung Kabur dari Rumah Sakit
    17 Diduga Tersangka Narkotika, Anak Anggota DPRD Kabupaten Purwakarta ditangkap Polusi
    18 Tingkatan Kerjasama Pendidikan di Kabupaten Siak, Pemkab Siak - Tanoto Foundation Gelar Audiensi
    19 Asisten Adum Jamal Penggunaan Bahasa di Ruang Publik dan Dokumen Lembaga Utamakan Bahasa Negara
    20 Wabup Husni paparkan persiapan TDSi 2022 Desember Mendatang
    21 Sekda Arfan Usman Buka Kegiatan Tentang Manajemen dan Pengawasan Penyelengaraan Pemerintah Kampung
    22 Bagikan BLT dan Cek Harga Komoditas, Presiden Jokowi Kunker Di Pasar Malang Jiwan Colomadu
     
     
    Galeri Foto | Advertorial | Indeks Berita
    Redaksi | Disclaimer | Pedoman Media Siber | Tentang Kami | Info Iklan
    © DELIK RIAU - SITUS BERITA INVESTIGASI